February 22, 2013

Secangkir Puisi

segalanya ada, segalanya tersedia, untuk diminum olehnya….
....ia akan memilih isi cangkirnya sendiri

tiga tahun lalu, ia mengejutkan se-bumi raya
isi cangkirnya meluber, kepenuhan entah minuman apa
ia sengaja, sebab ini minuman yang diincar se-bumi raya
“bagaimana ini bisa mengecewakan, sementara ini yang kalian impikan?”
begitu jawabnya, tiap kali mendapati tanya

sedikit-sedikit diteguknya karena penasaran
namun tiba-tiba ia tersedak, ia pusing mendadak
darahnya muncrat, lambungnya menolak
pihak medis mengeluarkan pernyataan
bahwa minuman itu selalu merenggut korban

seorang sahabatnya diam-diam meneguk nikmat
seorang sahabatnya adalah pecandu dosa kelas berat
dituangnya minuman itu ke cangkir seorang sahabat
dituangnya dengan sembarang sebab ia telah sekarat
“teguklah bekasku, secangkir keparat untuk seorang sahabat!”

sementara ia hijrah membawa kesakitannya
masih belum ditemukan obat penawar luka
sendiri, ia berjuang dalam waktu yang lama
sendiri, ia masih menjaga cangkir miliknya
ia meninggalkan segala, namun ia menolak lupa

“sebut aku pengecut, aku tak lagi mau bertemu malaikat maut”
begitu jawabnya, tiap kali mendapati tanya
cangkir kosong masih bersamanya
racun telah melukis noda yang tak kunjung punah
ia meninggalkan segala, namun ia menolak lupa

setahun berlalu, ia menengok cangkir kosongnya
dibesarkan oleh luka,
ia tak lagi menaruh percaya
apatis luar biasa,
ia skeptis dibuatnya

dua tahun berlalu, ia masih setia dengan kekosongannya
banyak rekannya bertanya keheranan
hausnya tak hilang, namun ia tak dijemput kematian
mengapa ia tak segera memilih berbagai jenis minuman?
segalanya ada, segalanya tersedia, untuk diminum olehnya

hari ini, ia membersikan cangkirnya
ada sarang laba-laba di dalam rupanya
ia terkejut, kemudian tertawa
hari ini, ia sudah berwarna
ia menyiapkan cangkir untuk minumannya

hari ini, ia membuka pintu kulkasnya
segala minuman baik langsung menyerbunya
tak peduli di cangkirnya masih ada noda
minuman terbaik pasti bersedia mengisinya

hari ini, ia memastikan lukanya pulih sudah
agar kelak tidak merepotkan minuman pilihannya
cangkirnya tidak sempurna, namun juga tak ada luka
....
hari ini, ia memantaskan diri
ia akan memilih isi cangkirnya sendiri.


Jakarta sore itu,

February 19, 2013

Selasa dan Segenap Usia

Suatu senja di hari Selasa. Wanita dua puluh satu tahun sedang membasuh air ke wajahnya. Tiga kali. Kemudian tangan, mercu kepala, telinga hingga kaki. Ia berwudhu rupanya. Disegerakannya memakai mukenah, lalu duduk di sajadah. Punggung lelahnya disandarkan pada dinding kamar yang baru lebih setahun dihuninya bersama suami.
"Subhanallah… walhamdulillah…wala ilaha illallah…wallahu akbar…"
Bibirnya memuja-muja Tuhan. Suara lembutnya menyejukkan. Pelan serupa bisikan. Matanya memejam, menghayati kalimat suci dalam-dalam. Tangannya mengusap lembut bagian perut. Tampak usia kandungan yang tak lagi muda.
"Subhanallah… walhamdulillah…wala ilaha illallah…wallahu akbar…"
Wajah cantik alaminya memancar tanpa polesan bedak dan riasan. Ia hanya mendandani diri dengan air wudhu lebih dari lima kali dalam sehari.  Di luar sana, langit oranye kian memerah. Pertanda maghrib segera tiba. Ia masih di tempat yang sama. Melantunkan kalimat suci sembari mengusap perutnya. Di luar sana, para muazin di seluruh dunia tengah bersiap mengumandangkan azan.
"Allahuakbar.. Allahuakbar.."
Bersahut-sahutan. Bumi mengingatkan. Memeriahkan semesta dengan seruan. Pergantian siang ke malam. Seorang wanita mulai kesakitan. Pecah ketuban.
Tak ada tanda-tanda sepanjang siang. Seperti hari biasa, sakit perut pun tidak. Sekarang ia kebingungan. Sebagian tubuhnya sudah basah oleh ketuban. Keringat dan air mata bercucuran. Sakit luar biasa tengah ia rasakan.
Seorang pria berperawakan kurus dan berkulit cokelat gelap berlari ke dalam rumah. Mulanya ia sedang memandang langit, bershalawat sembari menunggu maghrib. Begitu mendengar azan, ia bergegas ke masjid. Namun tiba-tiba saja keningnya mengernyit. Secepat cahaya, ia kembali masuk ke dalam rumah. Menghampiri istrinya.
Belum sempat menunaikan Magrib, keduanya terpaksa menyegerakan ke rumah sakit. Istri sekuat tenaga menahan sakit. Suami tak mampu menyembunyikan panik. Inilah kali pertama keduanya berhadapan langsung dengan ambang hidup mati.
Begitu istrinya ditangani dokter serta beberapa suster, ia berlari mencari tempat suci. Napasnya tersenggal, jantungnya berdegup kencang. Ditunaikannya maghrib dengan sederetan sunah, seperti biasa. Seusainya salat, tangannya diangkat. Telapaknya basah, gemetar tak karuan. Kali ini, air matanya pecah. Hanya kepada Tuhan, ia menumpahkan kegelisahannya. Sebab untuk istrinya, ia ingin menjadi luar biasa. Takkan dibiarkannya wanita itu tahu lelah-lelahnya. Takkan dibiarkannya wanita itu kelaparan, walaupun ia sama sekali belum makan. Maka pada pergantian siang ke malam, ia memanjat pohon doanya.
Beberapa orang memasuki musala ketika pria itu bangkit dari sajadahnya. Mereka menunggu isya rupanya. Setelah bersapaan, ia permisi keluar. Langkahnya tergesa-gesa, ia tak mau membiarkan istrinya sendirian saat bertaruh nyawa. Di ruang petak serba putih itu, seluruh momentum sekarat disaksikannya dari dekat. Detik jarum jam dan segalanya bergerak lambat. Lekat-lekat, ia menaruh harap.


Selasa, sembilan belas Februari silam. Sedari azan maghrib hingga isya, seorang wanita menahan sakit luar biasa.

Selasa, sembilan belas Februari silam. Ada sajadah yang basah oleh ketuban. Ada sajadah yang menadah segala harapan. Sajadah meng-amin-kan.

Selasa, sembilan belas Februari silam. Seorang wanita berdiri di ambang kematian. Atas nama azan yang memeriahkan semesta, ia takkan menyerah pada rasa sakitnya.
Selasa, sembilan belas Februari silam. Seorang pria tak lagi mampu membendung air matanya. Tak peduli seberapa lelah, ia selalu siap melawan ketakutannya.
Selasa, sembilan belas Februari silam. Ada ketuban pecah saat maghrib datang. Ada bayi merah yang diantar Jibril ke dunia.
Selasa, sembilan belas Februari silam. Azan isya dan tangis bayi merah saling bersahutan. Pertanda kehidupan dan sepaket kebahagiaan.
Selasa, sembilan belas Februari silam. Sepasang suami istri tengah naik tahta sebagai orang tua. Ibu dan ayah.


Bayi merah yang gendut luar biasa. Berambut halus dan tertidur nyenyak hanya jika perutnya kenyang. Bayi merah gendut yang hari ini berusia 22. Bayi merah gendut yang menolak lupa pada segala perjuangan orangtuanya. Bayi merah gendut yang menjadikan kebahagiaan keluarga sebagai napasnya. Bayi merah gendut yang murka jika mendapati orangtuanya dibuat luka. Bayi merah gendut yang berdoa untuk dipanjangkan usianya agar bisa menjaga senyum tetap merekah di wajah orangtuanya. Bayi merah gendut yang sedang susah payah menahan tangis saat mengetik cerita di sembilan belas Februarinya. Bayi merah gendut yang mencintai ibu dan ayahnya dengan kesederhanaan yang megah.


Di tempat terdekat,

February 14, 2013

Valentine

Siapa peduli hari Valentine,
jika setiap harimu tak pernah absen memanjakanku.
Siapa peduli hari Valentine,
jika pelukmu selalu bisa menghangatkanku.

Nyatanya…saat ini, aku tengah kedinginan. Sendirian.

Untuk apa mengkhususkan empat belas Februari,
kalau sudah jelas aku jatuh cinta padamu setiap hari.
Untuk apa mengkhususkan empat belas Februari,
kalau kebersamaan kita adalah yang aku cari.

Masih di tempat yang sama. Masih setia.

Hanya tertawa melihat gadis SMA diberi Cadbury oleh kekasihnya,
ciumanmu bahkan lebih enak dari cokelat buatan Willy Wonka.
Terhibur saat ada pria menyembunyikan bunga di balik punggungnya,
lalu berjalan menghampiri wanita bergaun merah muda.
Ah, dicintai olehmu bahkan jauh lebih indah dari bunga Sakura.

Kemudian aku meneguk cokelat hangat. Menikmati manis dan pahitnya yang pekat.

Ada pria memakai jas, membuka pintu untuk mempersilakan  wanitanya masuk.
Tiga remaja putri tampak malu-malu di hadapan ketiga pemudanya. Triple date, rupanya.
Di meja ujung sana, sepasang kekasih nampak mesra. Mereka segera menikah.
Lalu mahasiswa berlari ke luar saat kekasihnya di toilet. Mengejar penjual bunga buket.

Sendiri. Sofa sebelahku masih belum terisi. Di kedai kopi ini, aku mengamati.

Lagu-lagu romantis tak berhenti mengalun,
acara televisi bertema Valentine ditayangkan semua stasiun,
Penglihatan merabun karena dicekoki warna merah muda dan marun,
seseorang telah memilih untuk tetap sendiri selama beberapa tahun.

Itu aku…

Tak peduli dunia menuntut penjelasan atas ini,
pengabaian telah membuat mereka sakit hati.
Mereka menuduh, mencaci dan menertawai,
seseorang masih tetap tak menaruh peduli.

Aku mendapati diriku menyeringai sendirian.
Teringat pernah dituduh (maaf) lesbi oleh mereka yang ku abaikan….
Lihat aku, Semesta!
Aku masih baik-baik saja.
Hari Valentine tidaklah semenggoda itu.
Dan aku masih nyaman dengan kesendirianku.

Seorang wanita masih belum pulih,
masih menolak sakit lagi,
Entah hingga kapan...
Mungkin sebulan, atau sampai hari Valentine tahun depan

Lihat aku, Semesta!
Iya, aku pencari perhatian.
Lihat aku, Semesta!
Aku memberi tantangan.

Hanya wanita kuat yang bertahan dalam kesendirian.
Hanya wanita berani yang menyembuhkan lukanya sendiri.

Namun…

Akan ada pria yang mencintainya dengan sederhana, meluluhkan ia yang keras kepala.
Akan ada pria yang membuatnya lupa bahwa ia pernah terluka.



di sudut kedai kopi,

February 11, 2013

#PerkaraKita

Ada saat dimana kesendirian menuntut kebersamaan dengan alasan “semua diciptakan berpasang-pasanganan”. Sayang, teori sederhana itu tak berlaku untuk perkara Kita.


 Karena dari sekian banyak kita, ada Kita yang tidak ada di catatan Tuhan.
Kita adalah sepasang jodoh yang takdirnya tidak untuk bersatu.
Kita serupa kesempurnaan yang babak belur menjaga rindu.
*
Kita rangkaian dari kebetulan-kebetulan yang menolak segala teori Semesta.
Kita bak medan magnet Selatan - Utara. Saling tarik menarik dan menolak pisah.
Kita ‘lah rumus sederhana yang kerumitannya mengalahkan logaritma.
Kita bersanding di poros bumi. Dan khatulistiwa sebagai kelambu di malam pertama.
**
Kita tak ubahnya anyaman rotan pada kursi tua di sebuah desa,
saling mengaitkan simpul dan menolak digerogoti rayap.
Kita seabadi kisah-kisah lama. Lebih menarik dari sejarah bangsa,
legenda nyata sepanjang masa.
Kita paling durhaka. Mengubah arah anak panah cupid semaunya.
Kita berjuluk cahaya pagi yang mengkhianati fajar,

terburu-buru terbit sebelum pagi datang.
Kita ibarat petir yang menyambar, membelah langit demi pertemuan.
***
Kita adalah sabda-sabda yang dirahasiakan para nabi.
Kita 'lah sajak-sajak yang tak pernah menjadi puisi.
Kita adalah kesempurnaan struktur atom tanpa elektron.
Kita 'lah partikel yang menyusun lukisan 'Wanita Dari Firenze' karya Da Vinci.
Kita adalah kegelapan yang dirindukan pijar, warna-warni yang diharamkan pelangi.
**
Kita 'lah kelipatan dosa yang dibaptis surga.
Kita adalahlah kematian yang bereinkarnasi tanpa aturan.
Kita 'lah sepasang kekasih yang melukis senja di ufuk timur,
kemudian menabur bintang di tengah siang.
*
Kita adalah pengkhianat takdir paling angkuh yang pernah ada,
kemudian mengalah pada Semesta.
Bukan karena lelah, bukan pula menyerah. 
Hanya saja, kita menaruh koma. 
Jeda.


yang menolak lupa,

January 10, 2013

Ironis

Bagian paling lucu adalah saat seseorang menganggap dirinya kehilangan ketika ia bahkan belum pernah memiliki. Seseorang mengira dirinya terluka ketika tak ada yang menggoreskan pisau padanya. Seseorang merasa dipermainkan ketika tak satu pun mengaku pernah mengenalnya. Sese....wait, what? Did I just said "lucu"? Ah, IRONIS lebih tepat.

-F.

September 27, 2012

A to Z

"One day you can feel 'A', then another day you can feel 'Z'.
People change, aren't they?"

September 26, 2012

Who Loves You


"I've learned that more you force someone to leave you, then more you know who insists to stay is the one who truly loves you."
-Febie Arimbhie

September 22, 2012

Hadiah Termewah

“Hhhh….” helaan nafas seorang wanita yang menyandarkan tubuhnya di sofa. Sore itu, cahaya senja menembus jendela sebuah kedai kopi berdesain klasik dengan gaya khas Amerika.
Hampir lima jam ia duduk di sana, sendirian. Seluruh pelayan hingga petugas parkir kedai kopi yang terletak di Barat kota Jakarta itu sudah mengenal baik tamu langganannya ini. Mereka hapal betul kebiasaan wanita 21 tahun yang tidak pernah absen datang—walau hanya sekali—dalam seminggu. Wanita berpenampilan simpel dan sedikit cuek itu menyeruput Green Tea Frappe, setelah melahap Red Velvet Cupcake dan segelas Hazzelnut Latte—seperti biasa. Ia mengelap kacamata minus-cylinder miliknya dengan kain khusus, lalu kembali menegakkan tubuh setelah kacamata itu memagari indera penglihatan di wajahnya. Lekat-lekat ia tatap layar komputer jinjing di hadapannya. Di sana terpampang jelas barisan kata yang menyusun sebuah cerita. Perlahan, ia membacanya. Perlahan, ia menghidupkan kembali ingatannya....
* * *
 “Terimakasih, Pak” ucapku sambil tersenyum pada seorang petugas keamanan yang membukakanku pintu keluar.
“Iya, silakan. Terimakasih kembali” jawabnya ramah.
Aku berjalan gontai menuju taksi yang tadi mengantarku ke sini. Karena enggan mencari taksi lagi, aku sengaja memintanya menunggu dengan argo yang tetap dinyalakan.
“Pak, tolong antar saya ke Kebon Jeruk,” pintaku pada pengemudi.
Taksi mulai merayap dan membaur dalam kemacetan kota, seiring dengan angan dan harapanku yang melebur diserap senja.
Iya. Ini perkara mewujudkan angan dan harapan. Aku berangan-angan membeli sebuah kendaraan impian dengan uang hasil keringatku sendiri. Bahkan sedari empat tahun lalu, aku membuka rekening tabungan yang setiap bulannya tak pernah lupa ku isi sehabis menerima gaji. Namun jumlah tabungan rupanya baru menembus setengah harga saja.
Beberapa hari lalu sudah kuceritakan tentang ini kepada ayah, ibu, dan adikku. Singkat cerita, mereka menyimpulkan bahwa aku masih memiliki dua kemungkinan. Meminjam sejumlah uang di bank, atau membeli kendaraan dengan prosedur kredit (DP di awal + cicilan tiap bulan). Tetapi mereka tidak lupa mengingatkanku untuk berpikir matang-matang sebelum mengambil keputusan. Aku bisa saja bersabar hingga beberapa tahun ke depan sampai jumlah tabunganku cukup untuk membeli mobil idaman. Tetapi bukankah pertambahan jumlah tabunganku beberapa tahun ke depan, berbanding lurus dengan perubahan harga kendaraan dan ketersediaan jenis/tipenya? Lagipula, aku sudah mengkalkulasi perkiraan pengeluaran antara jika-aku-sudah-memiliki-kendaraan-pribadi, dengan saat-aku-belum-memiliki-kendaraan-pribadi. Hasilnya sedikit mengejutkan, sebab ku pikir pengeluaranku akan jauh lebih besar ketimbang sekarang. Rupanya dugaanku meleset. Inilah mengapa tekadku semakin bulat untuk segera memarkir kereta roda empat di halaman rumah.

Bukankah hidup memang tentang memperjuangkan sesuatu yang layak? , batinku.
Maka disinilah aku sekarang. Terduduk lunglai di dalam taksi yang tadi mengantarku ke sebuah bank. Setelah melalui prosedur yang rumit dan cukup lama, tibalah namaku dipanggil oleh petugas bank. Sayang, pihak bank rupanya menolak pengajuanku karena sebuah alasan. Masa kerjaku di kantor belum memenuhi syarat yang mereka tentukan—yaitu tidak kurang dari dua tahun, sementara saat itu aku belum genap setahun.
“Capek, Ka? Udah makan?” kalimat pertama dari ibu, setelah beliau menjawab salamku setiba di rumah. Aku menyandarkan tubuh di kursi ruang tengah sambil menunggu ibu menyiapkan makan malamku.
“Gimana, Ka?” tanya Ayah dan adikku yang tiba-tiba muncul dari dapur. Mungkin mereka baru selesai makan malam, pikirku.
“Ayah, Kakak mutusin buat batalin rencana beli mobilnya. Hehehehe. Kakak tunda aja sampai beberapa tahun ke depan. Gak apa-apa kok, hehehe. Soalnya kalau sekarang, kayaknya terlalu maksa, mungkin Tuhan gak suka,” jawabku sambil mencoba terlihat biasa saja di depan mereka—namun gagal.
Sehari, dua hari, tiga hari berlalu, aku masih—setidaknya, berusaha—biasa saja. Hingga suatu sore di hari Sabtu, ibuku masuk ke kamar dan memaksaku mandi. Maklum saja, aku mengharamkan mandi di hari libur. Maksudku, ah....ayolah! Kalian semua juga melakukan hal sama, kan?
Susah payah menolak, tetapi ibu semakin galak. Rupanya ibu meminta memaksa aku ikut dengannya. Entah ke mana, aku tidak tertarik untuk tahu.
“Stop sini, Pak!” ibuku berkata tiba-tiba pada pengemudi taksi.
Aku yang sedari tadi mencoba tidur sepanjang perjalanan, kini mengerjap-ngerjap mencari kesadaran. Ada jeda beberapa detik begitu aku menangkap keberadaan kami. Mungkin karena nyawaku belum menyatu seluruhnya, atau aku yang kelewat depresi tentang si kereta roda empat idaman, sehingga aku merasa sedang berada di…. Ah, sudahlah!
“Loh, Bu. Kita mau ngapain kesini?” tanyaku setelah kami turun dari taksi.
“Lahaciaaaa~” jawab ibuku asal.
“Udah, jangan bawel!” tambah adikku seraya menarik tanganku agar mengikuti mereka ke dalam sebuah gedung perkantoran yang terletak di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.
Wajahku masih mengekspresikan ‘apa-apan-sih-ini’ sedari tadi. Namun belum sedikit pun terjawab, seorang sales counter mendatangi kami. Semakin dipenuhi pertanyaan dan rasa kesal karena tidak juga mendapat jawaban, aku merengut minta dijelaskan. Hingga malam hari sepulangnya kami dari—well, tempat absurd sore tadi, ayah menyambut kami.
“Gimana?” tanya beliau penasaran, namun wajahnya geli menahan senyuman.
“Ayah….ini serius?” tanyaku menuntut penjelasan.
“Ya iyalah. Ibu sudah bayar kan tadi?” kata ayah, retorik.
“Setengahnya,” jawab ibuku santai. “Setengah lagi, urusan kakak” beliau melanjutkan sambil berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Malam itu, akhirnya ayah menjelaskan behind the scene dari kejadian hari ini. Sementara aku mendengarkan dengan seksama dan masih tidak percaya.
Rupanya ayah dan ibu sepakat menggabungkan uang mereka hingga mencapai setengah dari total harga mobil impianku. Mereka mencari info ke sana- ke sini mengenai spesifikasi mobil, harga mobil, dan perintilan-nya tanpa sepengetahuanku. Begitu info yang mereka dapatkan sudah lengkap, barulah mereka beraksi ke tahap berikutnya, yaitu mengajakku ke showroom Mazda Thamrin dan langsung membayar tanda jadi terhitung separuh harga mobil yang telah disepakati. Setengahnya lagi? Mereka sengaja menyerahkannya padaku.
*aku butuh beberapa menit untuk mencerna semua itu*
Terus terang, aku sempat menolak begitu tahu bahwa mereka campur tangan perihal permbayaran. Bukan apa-apa, aku hanya tidak terbiasa dihadiahkan sesuatu—heeeey, apalagi ini sebuah mobil—oleh ayah ibuku. Terpikir pun tidak. Kami bukan keluarga yang tingkat ekonominya di atas rata-rata. Kami keluarga biasa, namun bersahaja. Orangtuaku mendidik kedua anaknya—aku dan adikku—untuk hidup sederhana, tahu batas dan bekerja keras. Terbukti, kami bukan anak manja yang suka merengek minta dibelikan sesuatu oleh orangtua. Aku sudah terlatih menahan ego kekanak-kanakanku dan terbiasa menabung sedikit demi sedikit untuk mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Ajaran itu berlanjut sedari kecil hingga aku dewasa, sehingga wajar bagiku jika kini aku menolak saat ayah dan ibu membayar setengah harga mobil yang aku idamkan.
Dari kecil Kakak gak pernah minta macem-macem sama Ayah, Ibu. Kakak selalu nurutin kata Ayah. Padahal temen-temen Ayah sering cerita, anaknya susah diatur, banyak minta beliin ini-itu. Makanya Ayah bersyukur banget sama Tuhan, dikasih anak kayak Kakak. Jadi anggap saja ini hadiah buat seorang anak yang selama 21 tahun bertahan dalam kesederhanaan, gak pernah menuntut dan selalu bersyukur bagaimana pun keadaan keluarga….
Begitulah kalimat penjelasan ayah yang aku ingat, selebihnya tidak mampu kudengar lagi karena aku tengah disibukkan oleh genangan air mata yang berusaha kutahan.
Aku mensyukuri semua ini sebagai berkah dari Tuhan. Dalam hati, aku berjanji untuk mengganti setengah harga mobil yang mereka bayarkan, begitu selesainya aku melunasi cicilan. Walau aku paham, seluruh pengorbanan orangtua tidak akan terbalaskan. Mungkin bagi sebagian anak seusiaku, ini tak lebih dari omong kosong yang tidak sepatutnya aku banggakan. Mungkin banyak dari kalian yang bisa dengan mudah meminta dibelikan mobil oleh orangtua. Mungkin beberapa dari kalian juga dengan mudahnya gonta-ganti kendaraan tanpa kendala berat. Bahkan mungkin banyak dari kalian yang tertawa begitu membaca ceritaku ini. Tidak apa. :’)
Sebab bagiku, ini istimewa. Bukan tentang mobil mewah yang aku impikan. Namun tentang betapa baik dan kerennya Tuhan karena memberiku keluarga yang luar biasa. Bodohnya aku, baru menyadari bahwa hadiah termewah bukanlah barang seharga sekian rupiah. Kali ini, aku paham mata kuliah  yang diajarkan Tuhan. Pertama, selalu ada berkah untuk manusia yang berusaha. Kedua, bersyukur adalah cara manusia memetik berkah-Nya.
Pada akhirnya, berada di tengah keluarga—ayah, ibu dan adikku, adalah sebenar-benarnya hadiah termewah yang aku punya. Keluarga adalah berkah melimpah, harta paling indah.
* * *
Pupil mata wanita itu kian melebar, wajahnya penuh haru dan berbinar. Wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya di sofa empuk, tempatnya biasa duduk. Ia menoleh ke jendela di dekatnya. Matanya terpaku pada sebuah sedan buntung yang terparkir di luar sana. Mobil keluaran Jepang dengan warna putih dingin itu seolah membalas tatapannya. Seulas senyum tersungging di wajah mereka.
Senja mulai tampak saat wanita itu mengalihkan pandangannya ke layar komputer jinjing di meja. Segera ia menekan Enter dengan mantap, hingga ketikan—yang tadi dibaca—nya kini terpampang jelas di blog pribadinya. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Kali ini, senyumnya nampak berbeda. Cerita miliknya baru saja ia ikut sertakan dalam Blogging Quiz Mazda IIMS 2012. Wanita itu paham, bahwa Tuhan selalu punya kejutan. Hanya saja, kejutan itu dapat berupa hadiah atau musibah. Semua tak ada yang tanpa tujuan.
Lagi-lagi aku mencintai cara Tuhanku bercanda, batin wanita itu. Aku.

September 19, 2012

Tuhan Dan Selera Humor-nya ... (part 2)

Tanpa bermaksud menjadikan kelakuan mereka sebagai hiburan, gue beneran terhibur. Ya gimana dong? Gue kan jujur. HAHAHAHAHApabangetsihgueeee~ Well, gue memang bukan orang suci. Pun bukan orang yang berdandan religi. Gue biasa, namun berbeda. *asik!* Setidaknya gue konsisten menuhankan Tuhan, bukan menjadikan-Nya sabun ‘cuci tangan’. Tuhan ya Tuhan. Yang tiap-tiap kita tidak mampu menyamai se-persekian-juta-Nya. Tuhan ya Tuhan. Pemilik waktu yang tak berbatas dan ruang yang tak berpijak. Tuhan ya Tuhan. Nama-Nya terlalu tabu dicantumkan dalam 'permainan'.
Tapi....harus se-serius itukah? Kata siapa Tuhan tidak pernah bercanda?
Tuhan memang gak pernah main-main, tetapi Tuhan masih memiliki selera humor. Memang kalian pikir, dari mana sifat humoris kalian berasal(?)
Lihat saja! Kerap kali Tuhan gemar mengajak kita bercanda lewat kejadian-kejadian gak masuk akal di hidup kita. Seolah mempermainkan, padahal itu bagian dari uji kelayakan. Jika lolos, kelak surga-Nya siap dihuni. Jika sebaliknya, maka neraka-Nya sudah berdandan rapi menunggu kita mati. Ya setidaknya begitulah imajinasi gue. Perkara agama, menurut gue konsep dasar dari (hampir) semua agama adalah sama. Tentang kebaikan. Tentang kehidupan.
Tuhan punya selera humor yang tinggi. Begitu mudahnya Ia memberi, dalam sekejap menariknya kembali. Dari situ....gue selalu belajar bersyukur dan tidak mendadak cengeng ketika menerima kegagalan. Gue belajar menyikapi segala hal sesuai porsinya. Gue belajar merentangkan tangan ketika seseorang datang, dan mendoakan jika suatu hari seseorang pergi. Gue belajar menerima saat pertemuan dan merelakan adanya perpisahan. Gue belajar sebijak mungkin agar seimbang. Gue masih belajar….
Menurut gue, takdir Tuhan akan hidup seseorang itu bukan sesuatu yang mutlak dan simbolisasi kemurkaan-Nya. Iya, itu tak lebih dari cara Tuhan mengajak kita bercanda. Unik memang. So don’t take it like seriously. Cukup respon balik candaan-Nya dengan santai dan legowo tanpa mengurangi semangat juang.
Yo guys, challenge accepted! \m/
Dan jika suatu hari lo berada di puncak kelelahan, jangan langsung bilang “GAK LUCU!!!!” kemudian mem-vonis Tuhan jahat sama lo. Ajak Dia berkomunikasi tiap kali lo selesai ibadah. Jangan lelah untuk mengulanginya. Jangan menjauh dan hilang percaya. Tuhan bisa luluh, kalau kita juga bersungguh-sungguh. Semua hal yang terjadi sama kita itu atas kuasa Tuhan. Jadi kalau kita menginginkan sesuatu, mintanya juga sama Tuhan. Bukan minta sama dukun, paranormal, dan kawanannya.
Kenapa?
Simpel aja. Menurut lo, yang ciptain dukun, paranormal, dan kawanannya itu siapa? Ayam?
*hening*
Semesta ada karena siapa? Nah, memohonlah pada-Nya. Dengan begitu, semesta akan turut meng-amin-kan tiap-tiap pengharapanmu.
Caranya?
Bernegosiasi dengan Tuhan lewat usaha dan doa. Dan jangan lupakan....cinta. Iya, cinta. Ah, gue sih sebenernya agak najis kalau bahas cinta. Udah skeptis duluan. Makanya, bagian satu ini gue skip aja. *straight face*
Well, gue sering nangkep basah diri gue sendiri lagi cekikikan geli dalam hati tiap kali ngeliat orang yang cuma ngeluh dan sibuk meratapi nasib mereka yang enggak maju-maju, sementara mereka gak mau susah payah berusaha. Haha, jagoan! Kenapa harus buang-buang waktu mengasihani diri sendiri? Semesta tidak diciptakan untuk menunggumu berkeluh-kesah, kawan. Ayolah, jangan hanya bermimpi! Jendralmu adalah dirimu sendiri. Mulailah berusaha. Genapi dengan doa. Lalu nikmatilah cara Tuhanmu bercanda.

Aku berlindung kepada Sang Maha, dari nista yang melingkari semesta.
Dengan menyanggupi segala mau-Nya, yang maha nyata lagi maha tak terduga.
Maha benar Tuhan dengan selera humor-Nya.



yang tak gemar menyembah-Nya di keramaian,

September 17, 2012

Tuhan Dan Selera Humor-Nya

Terlalu sensitif ketika mulai berbicara tentang Tuhan. Serba salah pun. Tetapi buat gue, selalu menarik karena ada sensasi menyenangkan tiap kali mendengar atau membicarakan tentang ‘area sensitif’ satu ini. No guys, I’m not talking about sex.
Here….
Enggak sekali-dua kali gue denger temen-temen gue bilang bahwa gue berani, cuek, sarap, frontal, bahkan terkesan enggak takut sama apapun. Enggak jarang mereka juga teriak “ELLLLOOOO SSSSAKIIIITTTT JIWWWWA!!!!” sambil geleng kepala dan pasang muka….entahlah. Semacam ekspresi dari pergumulan rasa takjub, kagum, terkesima, salut, terheran-heran, syok, marah, terpukul, depresi, dan meragukan kewarasan gue. Wait, what? Okay, stop it. Gue gak mau di bully. Cuma gegara salah paham mengira ini blog narsis whatever blablabla. Gue bahkan enggak tau harus tanggapin itu sebagai pujian atau hinaan. (kayaknya sih hinaan….bye!)
So far, gue mengabaikan.
Kenapa?
Yaa gak lucu aja kalau tiba-tiba gue tanggapin dengan jawaban serius lalu obrolan panjang lebar tentang iman dan ketuhanan. Selain momennya yang (alhamdulillah) enggak pernah tepat, banyak dari mereka yang menganggap bahwa obrolan semenarik apapun—sekali lagi, APAPUN—kalau mulai melipir ke ‘area sensitif’ itu, mendadak jadi enggak menarik untuk diteruskan.
So, yeah. Tiap kali obrolan mereka yang mulai mengarah ke ‘area sensitif’, kerap kali gue respon dengan seringai andalan gue. "Seringai setan!" mereka bilang. Membosankan.
Lalu, apa yang menarik?
Menurut gue, saat beberapa dari mereka mendadak menjadi orang suci dan taat agama begitu hidupnya kehilangan roda kemudi. Namun berbalik menjadi sebuas hewan setelah menyandang kemapanan. Sebaliknya, banyak juga yang mengagungkan Tuhan begitu diberi kenikmatan dalam berbagai pencapaian. Namun berbalik memaki Tuhan dengan sumpah serapah kala kehidupannya hijrah ke golongan bawah.
Lucuk. Lucu pake k. Lucuk. Menurut gue itu lucu banget. Like seriously, gue beneran lagi ketawa sambil ngetik ini…. *DAMN!!!!* X’))
Well, gue enggak bermaksud menyudutkan siapa-siapa. Pun enggak bermaksud ceramah agama. Gue cuma share tentang tontonan favorit gue aja.
Yep. There's no typo detected. Ulah mereka memang tontonan favorit gue. You know….sekarang udah jarang banget film ataupun serial yang based on true story. Sementara gue disuguhkan ‘reality drama’ maha karya Tuhan. Gak tanggung-tanggung, pemerannya adalah si pelakon asli dan disiarkan LIVE pula. Yes! Tuhan lagi asik diajak kerjasama. Selera humor-Nya gak ada dua! Hahaha~
p.s. : adanya postingan ini tidak menjamin admin blog ini selamat dari beberapa orang yang menjadikannya tontonan dan merasa senang juga atas selera humor Tuhan. Yes. What you give is what you get. That’s life. If you know what I mean. So….berbahagialahahaha!



yang tidak sedang di tempat ibadah,
Febie.

January 15, 2012

Still Chic After Cried

Wear sunglasses on your face to avoid the glare of sunlight during the day....or....wear sunglasses on your face to hide something like swollen eyes due to crying. It's up to you. However, I do both. :p
Brown tuie sunglasses : Charles & Keith
Barong tshirt : Pasar Sukowati
Location : Sanur beach, Bali
Photo by Reza

                                             


So how? Have you ever did the same? *lol*

Xoxo,
Febie

January 10, 2012

Pop-arazzi

Left : M.Irwansyah, me, Opie Kirana
Location : Ancol, Jakarta Utara
Photo by Ebet



Left : Fathul Farid, me, M.Irwansyah
People were sleeping after mid-night. But when feels so blue, those lunatic people above prefer to go somewhere although they know it doesn't fix anything.

Cheers,
Febie

January 9, 2012

Skinhead

The gentleman with their skinhead? Ah, you can find at least one of them no longer than two miles of your currently place. But what do you think about a young lady with skinhead haircut on her hair? Well......
a few after hair cut
@my little brother's bedroom
on my way to Summarecon
@2nd floor balcony
@2nd floor balcony
@cypress park
@hotel room, ready for photoshoot
photoshoot
photoshoot
Calm down! X))
Yes, I bet you were like "holyshit! seriously? wow!" or just "hmm...." or even "hih!". HAHAHAHAHAHA. It's okay, I never take it like seriously! Feel free to admire or despise. The rest I will leave your opinion and assumptions. You knew only what I allowed you to. And I am not about waste my time trying to change it. Because I love what I'm doing about....
But anyway, how is it? Am I look cool enough? B-)

Rock on!
Febie