June 24, 2014

Kacamata Ayah

Saya sedang memejam ketika kepala saya terlintas kerinduan berbagi cerita di blog ini. Segera saya membuka komputer jinjing tua yang saya dapatkan sebagai hadiah dari ayah ketika saya berhasil lolos ujian saringan masuk universitas yang ayah saya inginkan. Iya, tempat kuliah yang bukan saya inginkan. Ah, sudahlah. Terima kasih ayah, laptop ini berguna.
Sedari setengah jam lalu saya sedang mencoba untuk tidur kembali namun gagal. Ini bukan lantaran saya terlalu kenyang melahap waktu dengan tertidur, sebab jelas-jelas saya baru terlelap kurang dari satu jam. Ini perkara semangat yang mendadak muncul untuk berbagi cerita dari kejadian yang baru saja saya alami. Terlebih saya baru menyadari, belum ada postingan tentang ayah sebelum ini. Belum lagi waktu saya yang senggang sebab tidak ada jadwal meeting hari ini. Maka mulailah jemari saya kembali menari di lantai dansanya sendiri.
Baru tertidur sehabis subuh tadi, saya dibangunkan Rizky (adik saya) yang memberitahu bahwa ayah baru saja menghubungi. Dengan sedikit takut karena tahu saya baru saja pulas, dia meminta saya bangun untuk segera mengantarkan kacamata ayah yang ada di rumah. Kebetulan ayah kami sedang dinas ke kawasan Gunung Sahari, Jakarta Utara.
Mendengar itu, saya sontak bangun dan langsung menghidupkan mesin mobil. Tak lebih dari lima menit, kami (saya dan Rizky) sudah meluncur untuk mengantarkan kacamata ayah. Baru kali ini saya mensyukuri kemacetan, sebab saya bisa menyetir sambil mengumpulkan nyawa-nyawa yang rasanya tertinggal di tempat tidur. Di jalan menuju kantor ayah, saya menanyakan soal kacamata ayah pada Rizky. Entah bagaimana, rupanya kacamata ayah terjatuh di jalan ketika beliau dalam perjalan menuju kantor tadi. Sesampainya di kantor, beliau segera menghubungi saya. Namun seperti biasa, saya tak pernah lupa mematikan ponsel sebelum tidur. Maka jadilah adik saya yang juga baru memejam sehabis subuh, terbangun oleh dering panggilan masuk dari ayah.
Saya terbayang bagaimana ayah berkendara hingga ke kantor dengan pandangan kabur. Oh ya, ayah saya adalah pengendara motor. Pasti mata beliau memerah karena menahan perih asap kendaraan dan polusi di jalan. Pasti tubuh beliau lebih lelah karena konsentrasi dan waspada yang berkali-kali lipat dengan mata kaburnya. Bagaimana kalau beliau tidak melihat ada lubang di jalan? Bagaimana kalau beliau tidak melihat ada kendaraan lain yang mengarah padanya dengan kecepatan tinggi? Ah, cepat-cepat saya membuyarkan lamunan hasil kekhawatiran yang saya timbulkan sendiri.
Ayah bisa menghubungi Rizky sudah berarti beliau baik-baik saja, saya membatin.
Kebon Jeruk – Tanjung Duren – Roxy – Gajah Mada – Hayam Wuruk – Gunung Sahari, begitu rutenya. Warga Jakarta tentu tahu, itu jalur macet luar binasa. Singkatnya, sampailah kami di depan kantor ayah. Lima menit menunggu, ayah menghampiri saya dan Rizky dengan wajah ceria dan tak lupa berterima kasih pada kami. Sungguh, saya tidak membual, sungguh, lelah saya lenyap seketika. Entah reaksi kimia macam apa, mengingat kondisi saya yang sedang fakir tidur dan datang bulan hari pertama, kemudian menembus kemacetan Jakarta dengan perut keroncongan yang meronta, mendadak sirna begitu melihat wajah beliau yang sumringah. Beliau bercerita perihal kacamatanya. Saya memperhatikan ayah, hingga tiba-tiba sekeliling saya bergerak melambat, waktu berdetak pelan. Saya melihat ayah, dengan rambut yang tidak hitam lagi, tubuh yang tidak setegap dulu lagi, dan keriput-keriput yang semakin jelas terlihat.
Ayah yang dulu gemar menggendong saya di pundaknya sambil lari berkeliling di Taman Monas, kini menepuk pundak saya untuk berterima kasih karena sudah mengantarkan kacamatanya. Ayah yang dulu hobi memboncengi saya berkeliling Jakarta dengan Vespanya, kini meminta tolong saya untuk menembus kemacetan dari Jakarta Barat ke Jakarta Utara. Ayah yang dulu sangat keras mendidik saya, kini sedang tertawa dengan keriput di wajah dan rambut ubannya.
Oh Febie, lihat ayahmu! Time flies so fast! Saya meringis dalam hati. Seketika saya merasa begitu takut. Saya takut kehilangan ayah. Saya takut beliau pergi sebelum saya benar-benar bisa membahagiakannya. Saya takut beliau pergi sebelum anak wanita satu-satunya ini membawa pria untuk meminta restunya. Saya takut bukan ayah yang menjabat tangan pria pilihan saya saat ijab---yang entah kapan. Saya diserang rasa takut yang terlalu mendadak. Beruntung, kacamata hitam di wajah menutupi air yang menggenangi mata saya. Ayah kembali melanjutkan rapat yang sedang berlangsung di kantornya, sementara saya dan Rizky kembali berkubang di kemacetan Jakarta.
Ya Tuhan, kalau ayah minta gunung dan gunung bisa dipindahkan, pasti saya bawakan untuk ayah, dalam hati saya curhat ke Tuhan.
Pagi ini, saya bersyukur telah diberikan rasa kerepotan yang membahagiakan. Saya bersyukur masih memiliki ayah yang wajah cerianya menjadi obat lelah dan nyeri haid hari pertama. Saya bersyukur ayah meminta tolong pada saya, artinya beliau mengandalkan saya. Saya bersyukur ayah masih ada, masih bersama saya dan keluarga. Saya bersyukur karena Tuhan begitu baik pada saya dengan menyuruh malaikat-malaikat-Nya menjaga ayah saya sepanjang perjalanannya yang tanpa kacamata. Saya bersyukur untuk hal-hal sederhana.
Pagi ini, dengan wajah serupa zombi, saya belajar lagi. Bahwa tiap-tiap kejadian akan menjadi cerita yang berbeda dengan sudut pandang yang dipilih oleh pelakunya. Seperti cerita saya di atas, misalnya. Bisa saja saya memilih untuk melanjutkan tidur, atau tetap mengantarkan kacamata untuk ayah namun dengan wajah cemberut dan hati yang kesal. Atau bisa juga saya menyetir ugal-ugalan untuk mengantarkan kacamata ayah dan kembali ugal-ugalan agar cepat sampai rumah. Oh, atau bisa juga saya menggerutu dan mengeluh sepanjang Kebon Jeruk – Gunung Sahari – Kebon Jeruk sampai mulut berbusa. Bisa. Mungkin bisa. Namun saya memilih untuk mensyukurinya. Karena dengan ikhlas, maka semua akan baik-baik saja. Terima kasih Tuhan, atas rasa kerepotan yang membahagiakan.

Selamat pagi, selamat memejam kembali.
-FA